<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5682512</id><updated>2011-04-22T05:08:32.608+07:00</updated><title type='text'>Beranda Cinta</title><subtitle type='html'>Sebuah ruang untuk secuil perenungan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mahabbah12.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahabbah12.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Husnul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14011502639388335465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5682512.post-110932306565392543</id><published>2005-02-25T16:06:00.000+07:00</published><updated>2005-02-25T16:17:45.656+07:00</updated><title type='text'>Ada yang terjaga tadi malam</title><content type='html'>Entahlah, belakangan ini, lelap itu jauuuh.&lt;br /&gt;Seperti tadi malam,&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja terjaga,&lt;br /&gt;Lelah memejam mata sedang kantuk itu tak juga hinggap&lt;br /&gt;Ada apa?&lt;br /&gt;Hening&lt;br /&gt;Tak ada satupun yang berada di benak&lt;br /&gt;Ingin menjumpa bintang &lt;br /&gt;Tapi tak mungkin&lt;br /&gt;Langit sungguh kelabu&lt;br /&gt;Sementara hujan rintik sudah sejak sebelumnya menjelma tirai&lt;br /&gt;Hanya langit-langit kamar yang mampu ku pandang&lt;br /&gt;Dan ingatan ini berputar-putar&lt;br /&gt;Sudah berkali-kali bibir basah oleh doa &lt;br /&gt;Tapi sepertinya tidur itu milik orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ku untai kata menjumpai seseorang,&lt;br /&gt;melalui benda mungil itu ku kirimkan pesan,&lt;br /&gt;"Abah, bunda ga bisa tidur"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku harap, pesan ini berjawab&lt;br /&gt;Tapi senyap&lt;br /&gt;Mungkin ia sedang jatuh diujung pulas.&lt;br /&gt;Sudahlah, banyak amalan hari ini untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tadi,&lt;br /&gt;berharap ada teman,&lt;br /&gt;menjauhi peraduan&lt;br /&gt;Menggelar helai sajadah&lt;br /&gt;Mengurai pinta&lt;br /&gt;Menengadah hening&lt;br /&gt;Luruh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~abah,bila terjaga tadi malam, pastilah di sana juga langit kelabu. hugs&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5682512-110932306565392543?l=mahabbah12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahabbah12.blogspot.com/feeds/110932306565392543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5682512&amp;postID=110932306565392543' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110932306565392543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110932306565392543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahabbah12.blogspot.com/2005/02/ada-yang-terjaga-tadi-malam.html' title='Ada yang terjaga tadi malam'/><author><name>Husnul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14011502639388335465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5682512.post-110906007898401182</id><published>2005-02-22T13:09:00.000+07:00</published><updated>2005-02-23T14:04:52.623+07:00</updated><title type='text'>Ku masih ingin bersama nya</title><content type='html'>Kemarin, Alhamdulillah, Allah mempertemukan ku dengan nya. Sebuah anugerah tak berhingga. Menyempatkan diri pulang kampung meski badan lelah bawaan dari kantor dan sudah 3 hari kurang tidur. Hanya demi bertemu ia yang berbulan lalu menyandang gelar 'suami'. Lelah itu lenyap ketika ku dengan utuh melihat ujudnya secara nyata, bukan lewat suara khasnya di telpon, bukan melalui kata-kata yang ia untaikan di sms. Ia di sana. Penuh senyum. Dan dengan tulus mengangsurkan punggung tangan. Dan, kepenatan berjam-jam di perjalanan seperti terbang menjauh, saat rengkuhan tangan ini tertuntaskan. Allah, Engkau di sana saat hati ini dipenuhi kesyukuran. Terima Kasih Rabbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, mungkin tidak tahu, betapa ada kuncup-kuncup cinta yang tumbuh dan entah kapan ia hadir. Ia mungkin tidak tahu, virus merah jambu itu menyerang begitu hebatnya setelah Allah menghalalkan ikatan ini dalam sebuah bingkai pernikahan. Ia mungkin tidak tahu, gelisahnya jiwa, saat kabar tentang nya tak juga hinggap di telinga. Ia, selalu hadir di setiap jeda, hingga aku harus berkelahi mengenyahkannya dari benak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hening, namanya dengan sengaja aku bawa di setiap pinta yang ku hantar ke angkasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika ia berpamitan pulang setelah mengantar. Sungguh aku tidak berkenan. Aku masih ingin bersamanya. Ada sudut hati yang melepuh saat ia mengangsurkan punggung tangan. Duh, serasa ia akan pergi sangat jauh dan tak kembali. Serasa, hatiku sebelah seperti dibawanya serta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gundah, ingin berlari menjumpainya. Menggenapkan kembali sebelah jiwa yang ia bawa. Dalam diam, ada gumam yang diungkapkan perlahan, "Abah, ingatkah engkau pada bunda?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa itu sebentar lagi Insya Allah. Bersama memintas hari demi hari. Berlabuh dengan rakit kesungguhan. Menujumu. Sekali saja. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cisanggiri.22.02.05&lt;br /&gt;~Untuk teman sebangku di bis yang membawa diri pulang ke jakarta. Maaf tidak mengizinkanmu pulang kemarin malam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5682512-110906007898401182?l=mahabbah12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahabbah12.blogspot.com/feeds/110906007898401182/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5682512&amp;postID=110906007898401182' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110906007898401182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110906007898401182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahabbah12.blogspot.com/2005/02/ku-masih-ingin-bersama-nya.html' title='Ku masih ingin bersama nya'/><author><name>Husnul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14011502639388335465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5682512.post-110869358043802403</id><published>2005-02-18T09:21:00.000+07:00</published><updated>2005-02-18T15:10:24.830+07:00</updated><title type='text'>Tanganmu, Ibu…</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;p style="FONT-SIZE: 8pt; COLOR: #bbbbbb; FONT-FAMILY: verdana"&gt;&lt;a href="http://mahabbah12.blogspot.com"&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/mahabbah12/anak.jpg" border="0" alt="I love u bunda" title="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ibumu adalah&lt;br /&gt;Ibunda darah dagingmu&lt;br /&gt;Tundukkan mukamu&lt;br /&gt;Bungkukkan badanmu&lt;br /&gt;Raih punggung tangan beliau&lt;br /&gt;Ciumlah dalam-dalam&lt;br /&gt;Hiruplah wewangian cintanya&lt;br /&gt;Dan rasukkan ke dalam kalbumu&lt;br /&gt;Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;(Emha Ainun Najib)&lt;/p&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang sudah sampai pada pertengahan. Dan Ibu begitu anggun menjumpai saya di depan pintu. Gegas saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama. Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, kamu sudah pulang” itu ucapannya kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan yang sungguh bersih. Sudah lama tidak pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ba’da Ashar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih”. Gegas saya angkat pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya. “Ah mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja” pikir saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram”. Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Saya memindahkannya ke halaman depan dengan mudahnya. Saya pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu. Subur dan terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di pagar yah” pinta Ibu.&lt;br /&gt;“Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam” sekilas saya memandang Ibu yang tengah bersusah payah memasak. Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan, biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesosok wanita muda, sedang menyapu ketika saya masuk rumah sepulang dari ziarah. “Neng..” itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arah saya. “Bu, siapa itu…?” tanya saya. “Oh itu yang bantu-bantu Ibu sekarang” pendeknya. Dan saya semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah tangga. Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya menemaninya tilawah selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur’an. Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput, urat-uratnya menonjol jelas, bukan itu yang membuat saya tertegun. Tangan itu terus bergetar. Saya berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang, karena tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dingin” bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya. Ibu masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepala saya. Saya memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan isya berkumandang, Ibu berdiri di samping saya, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya memenuhi udara mushala kecil rumah. Seperti biasa surat cinta yang dibacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan At-Thariq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi saya pandangi lagi tangannya yang terus bergetar. “Duh Allah, sayangi Mamah” spontan saya memohon. “Neng…” suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini tangannya terangsur di depan saya, kebiasaan saat selesai shalat, saya rengkuh tangan berkah itu dan menciumnya.&lt;br /&gt;“Tangan ibu kenapa?” tanya saya pelan. Sebelum menjawab, ibu tersenyum maniss sekali.&lt;br /&gt;“Penyakit orang tua”&lt;br /&gt;“Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit tenaga” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit biru tak berpenyangga. Saya memandangnya dari teras depan rumah. Ada bulan yang sudah memerak sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh. Dalam hening itu, saya membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat isya tadi. Apa maksudnya? Dan mengapakah, saya seperti melayang. Telah banyak hal yang dipersembahkan tangannya untuk saya. Tangan yang tak pernah mencubit, sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalan saya. Tangan yang selalu berangsur ke kepala dan membetulkan letak jilbab ketika saya tergesa pergi sekolah. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut ketika saya mencari kekuatan di pangkuannya saat hati saya bergemuruh. Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang saya jalani. Tangan yang pernah membuat bunga dari pita-pita berwarna dan menyimpannya di meja belajar saya ketika saya masih kecil yang katanya biar saya lebih semangat belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya, suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m nya mirip sekali. Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung. Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri. Ada sebuah puisinya yang saya sukai. Ibu memang suka menyanjung :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kau adalah gemerlap bintang di langit malam&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bukan!, kau lebih dari itu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bukan!, kau lebih dari itu,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bukan!, kau lebih dari itu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kau adalah Sinopsis semesta&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu yang saya baca dari sebuah buku. Jika saya renungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta, ketulusan…. Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk sarapan? Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup? Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita? Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya?..Pernahkah..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya “Bu, ikutlah ke jakarta, biar dekat dengan anak-anak”. “Ah, Allah lebih perkasa di banding kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di sini. Kamu yang seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang” Jawabannya ringan. Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas saya pergi. Ibu tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada kehendak Allah. Sebelum pergi, saya merengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat , saya reguk seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untuk saya. Selagi sisa waktu yang saya punya masih ada, tangannya saya ciumi sepenuh takzim. Saya takut, sungguh takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya, meletakannya di kening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kalian para sahabat? Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau ada, duduk di depan komputer dan membaca tulisan saya ini. Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau bisa menjadi seseorang yang menjadi kebanggaan. Engkau sangat tahu, dibanding siapapun juga. Maka, usah kau tunggu hingga tangannya gemetar, untuk mengajaknya bahagia. Inilah saatnya, inilah masanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* dwi,shanti, apakabar Ibunda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5682512-110869358043802403?l=mahabbah12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahabbah12.blogspot.com/feeds/110869358043802403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5682512&amp;postID=110869358043802403' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110869358043802403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110869358043802403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahabbah12.blogspot.com/2005/02/tanganmu-ibu.html' title='Tanganmu, Ibu…'/><author><name>Husnul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14011502639388335465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5682512.post-110863933074651214</id><published>2005-02-17T18:17:00.000+07:00</published><updated>2005-02-18T10:49:05.750+07:00</updated><title type='text'>Pangeran</title><content type='html'>&lt;em&gt;Bila ragu yang bertalu &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Maka temukan 'pasti' dalam khusyumu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(Shanti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa kecil dulu, setiap malamnya ibu gemar sekali bercerita. Dongengnya dengan mudah menghantarkan saya jatuh ke ujung lelap. Dari dongengnya, kemudian saya berkenalan dengan pangeran. Cerita ibu tentang pangeran memang banyak, tapi ketika itu satu yang saya simpulkan tentang pangeran. Pangeran adalah sosok yang baik hati, gagah, putra seorang raja dengan berlimpah kekayaan dan punya kereta bertahta emas yang di tarik oleh banyak kuda sembrani. Pangeran adalah sosok sempurna yang sangat diidamkan, hingga sewaktu kecil itu saya berangan-angan menjadi putri jelita yang dijemput kereta istimewa menuju istana gemerlap di atas bukit. Tentu sangat menyenangkan. Aih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang pun saya masih bermimpi dijemput pangeran. Namun kali ini, pangeran yang saya maksud bukan sosok sempurna yang mempunyai kereta kencana, tapi seorang manusia biasa dengan segala kekurangan manusiawi dan kelebihannya. Pangeran yang kepalanya tidak bermahkota, tapi keningnya sering menjumpai tanah dalam rangka bersujud kepada Sang Pencipta. Pangeran yang wajahnya tidak perlu tampan, tapi selalu teduh karena terbiasa menjaga wudhu dalam setiap waktunya. Pangeran yang begitu gagah menafkahi keluarga dengan rezeki yang halal meski harus bermandi peluh. Pangeran yang mempunyai cita-cita tamasya ke surga dan mengajak istrinya turut serta. Pangeran yang 'cakep' akhlak dan agamanya. Titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, meski kualitas diri saya sedemikian amburadul, tapi betapa saya menginginkan pangeran yang demikian. Pangeran yang Allah jodohkan untuk bersama melayarkan bahtera, seorang pendamping hidup yang akan saling meneguhkan langkah dan mengokohkah kedekatan kepada Allah Yang Maha Tinggi. Pangeran yang piawai menjadi nahkoda ketika berpesiar bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu ia datang. Saya melihatnya sejenak dari dalam rumah. Suara cempreng keponakan terdengar nyaring "bi tamunya sudah datang". Saya merapikan jilbab dan bergegas memakai kaos kaki. Tak ada yang luar biasa. Toh ia hanya seseorang. Tak ada acara memakai pakaian bagus. Tak ada acara menyuguhkan penganan. Hanya segelas air putih dan itu saya bawa tanpa nampan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, siang itu ia datang. Bersilaturahmi lebih tepatnya. Bahkan saya iseng melabeli pertemuan itu dengan "jumpa penggemar". Tulisan saya di Eramuslim membawanya datang ke rumah. Ingin tahu saja seperti apa saya, karena menurutnya tulisan saya menyentuh hatinya. Itu katanya. Maka ia pun menuliskan 3 email prolog sebagai perkenalan. Tak ada yang nyeleneh dalam emailnya. Dan saya pun berkenan memberikan alamat rumah ketika ia meminta izin untuk bersilaturahmi secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan siang itu ia datang. Tak ada yang istimewa dalam obrolan kami. Percakapan sangat standar. Bekerja di mana, lulusan mana, hobi, aktivitas, bahkan mempersoalkan situasi politik menjelang pemilu. Yang luar biasa adalah ketika ia pamit pulang dan dengan serius meminta saya berkenalan dengan ibunya. Saat itu saya menolaknya spontan. Untuk apa coba.&lt;br /&gt;Maka saya pun mengerti permintaan seriusnya, ketika beberapa hari setelah itu ia menelpon dan mengutarakan "Saya punya feeling, kamu adalah jodoh yang Allah pilihkan untuk saya. Dan biasanya feeling saya benar". Tertawa lepas, itu reaksi saya. Ah ada-ada saja. Dan saya pun menolaknya dengan alasan yang saat itu bisa diterimanya. Ya, saya punya alasan untuk menolaknya. Komunikasi putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlari tak kenal henti. Ribuan menit dan detik berhambur tanpa ampun. Suatu hari saya pulang ke rumah. Ibu sakit. Siang itu, setelah membayarkan rekening telepon, saya mampir ke warnet untuk sebuah keperluan. Dan tiba-tiba saja ia menyapa saya ketika online. Ia bertanya apakah saya telah menikah. Beberapa hari kemudian dia menelpon dan mengulang kembali tawaran saat itu setelah tahu saya belum menikah. Saya tidak mempunyai alasan kali ini. Saya meminta waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bis yang membawa saya pulang ke Jakarta, bimbang itu semakin berdenyar. Resah hati ini berbisik "Rabbii... diakah pangeran itu yang kan membantu hamba melabuhkan cinta ini pada kesejatian-Mu, diakah orangnya yang kelak meneguhkan langkah dan mengokohkan rengkuh kayuh pada biduk yang kan terarungi menuju tepian hakiki bernama surga?". Masih dalam diam, pesan ibu terngiang kembali, ketika suatu saat ia menyampaikan persyaratan yang harus dipenuhi oleh semua menantunya "Nak, sanggupkah ia tidak meninggalkan shalat". Dan sayapun berkernyit ragu, apakah dia sanggup melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan. Dengan satu ini, kemudian saya berkelahi. Setan begitu pintar mencari banyak celah hingga keraguan itu terus menjulang. Bagaimana jika ia dzalim, bagaimana jika ia tidak bisa menjadi qawwam yang baik, bagaimana jika keluarganya tidak menerima saya sebagaimana mestinya, bagaimana jika kelak ia menghalalkan segala cara dalam menafkahi keluarga dan banyak lagi 'bagaimana' yang kadang membuat hati ini ciut dan surut. "Bila ragu yang bertalu, temukan pasti dalam khusyumu" itu isi sms teman ketika saya mengurai keraguan itu padanya.&lt;br /&gt;Dan memang, kepada siapa lagi saya harus bergantung dan memasrahkan diri selain kepada Allah yang menggenggam kekuasaan atas setiap perkara di setiap jengkal semesta. Pangeran adalah urusan-Nya yang ghaib. Tak ada satu kepala manusia pun di dunia yang perkasa mengatur jodoh anak adam. Bukankah Allah berjanji, wanita baik-baik untuk lelaki baik-baik dan sebaliknya. Dalam keheningan sepertiga malam terakhir, selanjutnya ragu itu saya tumpah ruahkan dalam sujud-sujud panjang. Kepada-NYA, satu yang saya pinta "Allahu Rabbii, jika ia adalah pangeran yang terbaik untuk kehidupan hamba, agama hamba dan akhirat hamba kelak, maka anugerahkan ia untuk hamba, dan juga mudahkan untuk kami jalannya, Allahumma Amin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima hari menjelang Ramadhan, akhirnya saya "dijemput pangeran", Allah mempertemukan kami dalam sebuah ikatan pernikahan. Dengannya. Alhamdulillah, sebuah karunia tak berhingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To my pangeran : Kang Alex, Cinta itu ada di sana, di kedalaman jiwa, di keteguhan pinta. Love&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5682512-110863933074651214?l=mahabbah12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahabbah12.blogspot.com/feeds/110863933074651214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5682512&amp;postID=110863933074651214' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110863933074651214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110863933074651214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahabbah12.blogspot.com/2005/02/pangeran.html' title='Pangeran'/><author><name>Husnul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14011502639388335465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5682512.post-110860611903313214</id><published>2005-02-17T08:57:00.001+07:00</published><updated>2005-02-18T10:51:13.036+07:00</updated><title type='text'>Hening</title><content type='html'>Kemarin dan hari ini&lt;br /&gt;Cinta itu hadir bertubi di sini&lt;br /&gt;Kemanakah engkau cinta?&lt;br /&gt;Tak ada kabar meski secuil&lt;br /&gt;Senyap&lt;br /&gt;dalam gigil&lt;br /&gt;dalam sengau&lt;br /&gt;aku melayangkan hening&lt;br /&gt;"Menjumpain Nya yuks&lt;br /&gt;mengemis cinta&lt;br /&gt;mengalun pinta&lt;br /&gt;merenda asa&lt;br /&gt;menengadah jiwa&lt;br /&gt;dalam hening sujud tahajud&lt;br /&gt;Wake up dear"&lt;br /&gt;Adakah engkau terjaga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~nu melang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5682512-110860611903313214?l=mahabbah12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahabbah12.blogspot.com/feeds/110860611903313214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5682512&amp;postID=110860611903313214' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110860611903313214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110860611903313214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahabbah12.blogspot.com/2005/02/hening.html' title='Hening'/><author><name>Husnul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14011502639388335465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5682512.post-110852344679420344</id><published>2005-02-16T10:03:00.000+07:00</published><updated>2005-02-18T10:55:51.506+07:00</updated><title type='text'>Duh</title><content type='html'>Ternyata cinta itu ada di sana. Dalam hatinya. Di kedalaman jiwanya. Sungguh, aku bukan menerka, ber GR ria atau sekedar mereka-reka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta itu ada di sana. Ya, dalam kesungguhan pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalem sms nya datang. "Geulis, sudah bosen dapet telpon dari akang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~Abah, syukran atas banyak cintanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5682512-110852344679420344?l=mahabbah12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahabbah12.blogspot.com/feeds/110852344679420344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5682512&amp;postID=110852344679420344' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110852344679420344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110852344679420344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahabbah12.blogspot.com/2005/02/duh.html' title='Duh'/><author><name>Husnul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14011502639388335465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5682512.post-110370243481853438</id><published>2004-12-22T14:53:00.000+07:00</published><updated>2005-02-18T11:00:50.560+07:00</updated><title type='text'>Bunda, Rindu Ini Melangit Lagi</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;Cintamu padaku,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Berakar di sukma &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rindangnya memenuhi jiwa &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sepanjang masa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(sebuah sumber)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;kepada kedua orang ibu bapaknya,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Ibunya telah mengandungnya &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, ...."&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(QS Luqman : 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, malam ini tiba-tiba saja aku mengingatmu dengan utuh. Gurat syahdumu, tulus senyummu bahkan gaya berceritamu di masa kecil. Tiba-tiba saja bayangan sosok anggunmu dengan sorot mata penuh cinta hadir dalam jeda yang panjang kemudian menghilang. Sedang apakah saat ini bunda? Membaca buku? Tadarus Al-Qur'an? Menonton televisi atau ah entahlah, aku tidak yakin apa yang sedang bunda kerjakan saat ini. Mungkin juga bunda tengah bersiap di peraduan. Malam sudah akan beranjak. Tidur bunda selalu awal. Itu yang kutau. Ah, semoga bunda baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, mata ini sudah dari tadi berkabut. Orang-orang yang lalu lalang tak lagi aku pedulikan. Pandangan ini bahkan telah samar. Bening air mata mungkin sebentar lagi luruh. Duh, mengapa lama sekali petugas itu memanggil dan menyerahkah obat yang akan aku tebus. Bunda, aku takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, betapa aku ingin menujumu detik ini juga. Merengkuh banyak kekuatan yang seringkali engkau persembahkan ketika masalah tengah menghadang. Memetik bulir-bulir kedamaian yang selalu kau hunjamkan teguh ke kedalaman jiwa. "Bunda yakin, Allah pasti memberikan jalan atas masalahmu. Allah tahu batas kemampuanmu. Ia sudah menakarnya. Kamu yang harus yakin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, betapa bahagia jika saat ini engkau nyata di hadapanku, inginnya aku bersimpuh di pangkuan dan meneguk percik-percik pinta yang kau senandungkan sempurna kepada Allahu Rabbana. "Semoga anak bunda jadi anak yang shalihah, pintar dan mendapat pendamping hidup yang shalih", "Semoga kamu, nak, sehat dan diberikan rezeki yang berkah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, sungguh gembira tak terkira bila kau ada di sini sekarang, hingga dengan bebas aku meminta kesediaanmu untuk membaluri jiwa dengan param hangat doa-doa ikhlasmu hingga ketenangan itu menjulang. Bunda betapa ingin ku raih itu semua sekarang juga. Dada ini bunda, seperti diterjang beribu gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah bunda, dokter yang memeriksaku barusan memberitahu bahwa janin yang tengah ku kandung tidak bergerak. Aku melihatnya bunda. Gumpalan kecil itu terlihat di layar monitor jelas sekali. Aku melihatnya bunda. Si kecil yang Allah amanahkan di dalam rahim. Dokter mengguncang-guncang alat itu agar si kecil bergerak. Berkali-kali. Lagi dan lagi. Ia diam bunda. Senyap. "Allah, janin kecilku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu, saya masih belum yakin dengan keadaan janin ibu. Dua minggu yang akan datang, kontrol lagi yah, untuk kepastiannya," suara dokter sayup-sayup singgah di telinga. Ia menuliskan resep dan dengan senyuman tulus mengangsurkan kertas itu ke hadapan. "Sabar ya bu, banyak berdo'a," tambahnya menenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, kecemasan ini begitu kental. Aku merasakannya sekarang perkataan bunda di waktu lalu. "Nak, jangan buat bunda cemas, hati bunda seperti belah ketika kau belum datang juga, lain kali telpon jika akan menginap", "Nak, makanlah, agar sakitmu segera sembuh, bunda tak bisa tidur melihatmu berbaring lemah, bunda cemas nak, sungguh!". Duh bunda, aku tahu khawatir itu saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan yang lalu dokter memberi tahu bahwa aku resmi menjadi seorang ibunda. Dan sejak saat itu, aku mulai merasakan perasaan yang tumbuh berganti-ganti. Kesayangan, kebahagiaan, kecemasan hingga perasaan tanpa nama. Bunda, betapa tidak mudah ternyata menyandang gelar itu. Lelah berhari-hari karena mual dan pusing. Menghindari banyak makanan dan menelan obat dan vitamin agar janin yang dikandung sehat. Aku juga harus berhati-hati dalam banyak hal. Dan semuanya, segalanya, demi sesosok cinta di dalam sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, seperti ucapanmu bahwa do'a seorang bunda seperti tuah, seperti bisa, selalu ampuh. Maka aku memohon kepadamu, do'akan agar amanah Allah yang tengah ku kandung baik-baik saja. Pintakan kepada Allah, agar si kecil tumbuh dengan sempurna. Aku juga selalu berdoa untuk amanah ini, do'a yang bunda sendiri ajarkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Ya Allah, lindungilah ia yang berada di rahim hamba, jadikanlah ia dalam keadaan baik, bentuk yang sempurna, rupa yang elok, dan teguhkanlah kelak dan hatinya keimanan kepada Mu, mengikuti sunnah Rasul Muhammad, berikanlah kebaikan untuknya di dunia dan akhirat."&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Aku sayang bunda. Sungguh. Meski aku tahu sayang ini hanya seujung kuku dari bentang cakrawala cinta terindahmu. Meski sangat nyata rindu ini hanya setitik kecil di samudera penantianmu. Meski sangat jelas, ingatan kepada bunda bukanlah apa-apa dibanding semua yang bunda lakukan. Pengorbanan, ketulusan, kasih sayang, sujud-sujud bunda, bahkan air mata kesedihan. Tak tertebus. Tanpa batas. Semoga Allah sajalah yang membalas itu semua. Surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, sudah berapa lama kita tidak bertemu. Rindu padamu bunda, membumbung tinggi. Bunda, perkenankan aku bersimpuh dari jauh. Dalam gundah. Dalam lelah. Di setiap detak tak tentu. Serta dalam degup yang menderu. Ingin kusampaikan untai kata ini di gendang telinga mu "Bunda, rindu ini melangit lagi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Untuk semua bunda di seluruh dunia, "Selamat Hari Ibu!".&lt;br /&gt;* Untuk yang tadi subuh menelpon dan mengingatkan QS Luqman:14. &lt;strong&gt;I Love U Cause Allah.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5682512-110370243481853438?l=mahabbah12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mahabbah12.blogspot.com/feeds/110370243481853438/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5682512&amp;postID=110370243481853438' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110370243481853438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/110370243481853438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahabbah12.blogspot.com/2004/12/bunda-rindu-ini-melangit-lagi.html' title='Bunda, Rindu Ini Melangit Lagi'/><author><name>Husnul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14011502639388335465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5682512.post-106091274293876246</id><published>2003-08-15T08:59:00.000+07:00</published><updated>2005-02-18T11:44:32.466+07:00</updated><title type='text'>The first</title><content type='html'>Bismillah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The beginning is a half battle...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5682512-106091274293876246?l=mahabbah12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/106091274293876246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5682512/posts/default/106091274293876246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mahabbah12.blogspot.com/2003/08/first.html' title='The first'/><author><name>Husnul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14011502639388335465</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
